Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kerinduanmu

29 November 2010
Cahaya tentang rasa
Menyempatkan waktu berpikir
Di tengah malam engkau terbangun
Hanya ingin dibelai
Nyanyian rindumu anakku
Sungguh sangat ayah rasakan
Betapa engkau haus akan kasih sayang
Di tengah malam pun engkau mencari damaimu
Ayah kan berikan itu anakku,
Selalu.

Semangat Diri

09 November 2010

Jengah ku memendam
Menampar berulang-ulang
Mainkan rasa-rasa
Tak pedulikan apa itu putaran masa
Alunannya menggugah jiwa ini
Sandarannya pecahkan kaca nyali
Jika ini hanya kubawa
Bertambah pun luka demi luka

Asa disana telah menanti
Mesra rasanya
Tengadahkan doa dan munajat cinta
Sejuta angan ciptakan khayal
Ayo... kemana dan berikan tanganmu
Ajak 'ku menatap tabir terangmu
Senyum alam pun mengelilingi
Di sana tempatmu...pangeran
Kenapa tergerus oleh ilusi-ilusi itu
Tidakkah dirimu sadar?
Semu dan tak menerang lagi
Hanya matikan inspirasi mudamu
Ayo ... rebutlah kembali!
Pancarkan pesona kehidupan itu
Secercah sinar menyeruak pelan
Menggugahkan harapan
Menatap indahnya dengan kelembutan
Dan mengukir senyum dari percikan jilatan api
Jadikan lecutan semangatkan diri
Demi kesadaran akan kemajuan
Menatap masa bekali rasa pasti

Momentum ruangkan hati
Menerobos pekatnya tatapan
Di antaranya tajam pun kosong
Inilah saat kata mulai merenda
Dengan kemilau cahaya pagi
Gairahkan diri tuk mengabdi
Padamu ibu pertiwi


Puncak Kerinduan


Tertatihku disini
Mencoba beranjak pergi
Yang usang itu bakal lari
Tinggalkan jejak hati
Ungkapkan rindu pada-Mu
Menawarkan syahdunya malam ini
Disini kuperpijak kini
Hantarkan lara hati

Ku mengadu pada-Mu
Kapankah kerinduan ini kan menepi
Semaikan hati ini
Hanya pada-Mu kini
Coba bawakan aku tuk memilih
Intan-intan mana yang pantas menghiasi
Deras pikuknya rasa dan asa
Menyelimuti kalbu-kalbu lorong jiwa
Menunggu sang waktu tiba
Beritakan rasa-rasa berbunga
Obati hati lara ini
Di dalam puncak kerinduan
Hingga pagi pun tiba.

PILU

07 Oktober 2010
sunyinya sepertiga malam terakhir
di pagi tadi
detakan sang waktu pelan
tidak tanda tidak ada suara lain
hantarkan diri ke pembersihan
munajatkan doa-doa
sambil tunggu suara sana
harapkan kabar berita
sapaan lembutmu itu

rasa cemas mulai melanda
kebiasaan itu tetap hanya sekali saja
sadar ataukah sengaja
burung pagi itu pun belum bersuara
warnai indahnya alam fajar
resahnya hati tatkala buntu
tiada salam sapa dan rindu
terulang waktu demi waktu

hati walau terbiasa
menata rona-rona jiwa
pelankan rindu membara
walau tak mampu membunuhnya
hanya karena sebuah cinta

hanya satu pesan
belajar terbiasa
suarakan hadirnya dimana
tuk tenangkan hati amankan rasa.

Kuncup itu Telah Mekar Kembali

05 Oktober 2010
Sedianya hadir walau sebentar
Laju waktu bergerak pelan
Antarkan asa yang makin hilang
Redup sesaat memang

Ketika jeritan hati bersuara lirih
Untuk apa kau pergi
Tinggalkan luka yang belum terbayar
Begitu tegakah?

Kuncup pun tinggal tangkainya
Mahadaya sinarnya ketulusan
Mulai buka tabir kerinduan
Sinarnya pancarkan pesona
Tumbuh kembangkan rasa
Seakan mengadu berita
Mekarkan kuncup yang hampir tak bernyawa
Apakah itu sebuah pertanda?
Biarkan sang waktu menjawabnya.
26 Agustus 2010
Indahnya Ramadhan ini

Kujulurkan sajadah panjang
Mengawali Ramadhan kelabu ini
Teringat sosok penyejuk jiwa
Yang telah kembali pada-Nya
Semoga adinda tenang bersama-Nya di alam sana
Hari-hari Ramadhan ini
Sejenak melelahkan hati
Ketika Harapan tak kunjung hadir
Mengusik mimpi-mimpi
Merobohkan sebuah jati diri
Hampir hilanglah ia
Dari benak hatiku
Tatkala asa itu kembali
Menggulirkan cintanya cinta
Cinta yang sebenarnya
Memanggil hati tuk mendekati
Kembali
Serasa seperti mimpi
Mungkinkan untaian ayat-ayat cinta
Semaikan jiwa-jiwa kerontang
Penuhi laksana embun pagi
Bawakan kesejukan
Semoga kan abadi
Seiring cinta ini pada-Mu ya ... Rabbi
16 Agustus 2010

PUSING KEPALAKU

Sahabatku...
Saat ini ku sangat sedih
sedih sekali
Aku seakan telah dikhianati
Sungguh, sahabat...
Ku sangat tidak sangka dan tidak duga
sama sekali
Shock rasanya hati ini
Udah aku letih hati
Pekerjaan menjadi sampingan
Demi sebuah tujuan hati
Demi ketenangan pikirannya
Ku berusaha hibur dan ajak dialog semata
Sebagai wujud kasih dan sayangku terhadapnya

Namun, sahabatku...
Aku merasa telah disakiti
Sangat sakit
Benar-benar sakit kurasa, sahabat...
Kepalaku saat ini pusing
Pikiranku sekarang kacau
Hatiku sangat sangat galau
Entah karena dalamnya cinta dan sayangku mungkin
Hingga ku telah jatuh dan terperosok ke dalamnya rasa
Butuh terapi aku, sahabat...
Tolong bantulah aku naik ke permukaan itu lagi.
Sungguh, aku butuhkan dirimu, sahabatku.
Tolonglah daku.
Siapapun dirimu...

15 Agustus 2010
TERDIAM

Sendiri daku sekarang
Saat ini ku teringat masa lalu kita
1 tahun lalu di Ramadhan yang sama
Hari-hari seperti ini terasa menyenangkan
Sangat menyenangkan
Engkau selalu ajak jalan-jalan saat libur datang
Sedihku rasakan
Teringat sosok wajah riang
Hadirmu sungguh anugerah terindahku
Masih terasa sakit hati ini
Tak terobati dan terus terjadi
Ku bertahan dan terus bertahannya
Harapkan mentari muncul kembali di hati
Sesaat hadir sesaat pun pergi
Sinaran hati sungguh kubutuhkan saat ini, sahabat.
Semangati kalbu dan hidupku lagi
Namun yang diharap tak kunjung menyikapi
Bahkan cenderung tuk bermain hati
Akan perasaan hati ini

Rasa saling itu
Hanya itu saja
Yang belum kau punyai
Wujudkan rasa percaya
Akan sebuah ketulusan hati
Tak terucap saja
Namun hadir dalamnya nyata
Bukanlah hiasan lipstik tinta semata
Akan uraian dan arti kata demi kata
Lebih dari itu, kekasih...
Lebih dari itu.
Wujud perhatian menjadi utama
Coba tengoklah aku dengan kesadaranmu
Itulah wujud rasa sebenarnya
Akan arti sebuah kata saling

13 Agustus 2010

Daya Juang Pemuda

Dinginnya pagi hari di awal subuh
Tak surutkan ayunan langkah tegap
Sunggingan senyum menghiasi wajah
Tanpa ragu berjalan
Sosok pemikir masa depan
Calon pengubah takdir-takdir Tuhan
Diamnya bukan karena diam
Tawanya bukan berarti kebahagiaan
Senyumnya pun bukan itu keceriaan
Dia masih berpikir
Menggunungkan semangat juang
Entah berapa waktu tersisa
Dia tak berpikir itu
Menggelorakan asa menjulangkan cita
Satu tekadnya demi masa depan
Bara-bara api pun tak kunjung padam
Hanya secercah cahaya pun menjadi kendali
Satu tekad bulat telah dicanangkan
Aku bisa dan sanggup mencapainya.




Kecewa

10 Agustus 2010
Terpurukku
Saat tau bahwa dirimu mendua
Bahkan mungkinkah melima?
Bukahkah cerita orang itu terkadang bisa dipercaya
Karena suatu ketika dia pernah mendengarnya darimu
Ku tak tahu lagi tuk berbuat apa
Pasrah ku pada-Nya.

Jika pun itu tidak benar
Buat apa kau sempatkan tuk bertutur padanya
Apalagi dengan bahasa dia yang seperti itu
Kau balas saja
Bukankah ini memancing murka
Bukankah kau tau rasa cemburuku yang tiada terkira
Namun engkau mencoba-cobanya
Sakit hatiku tatkala membacanya

Setia

09 Agustus 2010

Setiaku
setiamu
setia kita
sulit untuk berpaling
ketika dua hati berlabuh dalam tepian
terucap ikrar saling jaga hati
itulah setia

setiap waktu
di setiap jalan yang berbeda
jauhnya juga tidak bertepi
saling percaya pun tanpa bertatap
tanpa ada yang tahu
namun tetap jaga diri
itulah setia

ketika diluar tanpa rencana
beda wajah lain jenis
mencoba tuk bertahan dan tak bergeming
hanya menjaga hati tak terusik
itulah setia

dalamnya kata isyaratkan rasa
dalamnya hati siapa yang tau
tetap tersenyum ceria
menjalin sebuah cerita
dalam suka ataupun duka

setiap detak
setiap langkah
setiap nafas
dan setiap senyum
selalu isyaratkan sebuah kata
setia